Kamu si pendiam? Aku juga. Beri jalan seseorang untuk menjadi lebih baik.

Bicara tentang label..

Tidak.

Maksudku ini bukan label kemasan suatu produk, tapi ini adalah "label" yang lain. Label yang sering diberikan seseorang ataupun orang-orang kepada orang lain. Contoh labelnya seperti : si pemarah, si bodoh, si pintar, si jenius, si friendly, si pencuri, si pemalu, si jutek, si iseng, si pendiam, si kasar, si nakal, si aneh dan si yang lainnya.

Apakah kau pernah dijuluki atau dilabeli oleh orang lain? Atau mungkin kau yang pernah melabeli orang lain?

Tenang tidak apa-apa, kita semua tahunya itu bukan kejahatankan? Bila label itu berupa hal yang bagus, itu bisa berarti pujian. Tapi bagaimana bila label itu berupa hal buruk atau orang yang dilabeli nya tidak suka, itu bisa berarti apa? Bercandaan? Tidak! Itu adalah perundungan verbal. 

“Jadi aku mau bercerita, aku adalah salah satu orang yang mendapatkan label dari orang lain saat aku memasuki sekolah menengah atas, tapi sejujurnya sampai saat ini aku masih tidak tahu "apakah aku dari dulu memang seperti apa yang teman-teman SMA-ku label kan padaku tapi aku tidak sadar? Atau ada hal yang baru pertama aku lakukan didepan mereka yang membuat mereka memberikan label itu?" Aku tidak tahu, entah aku tidak berani atau memang hal itu tidak terlalu penting untuk aku tanyakan pada mereka.

Jadi aku diberi label si pendiam, hehe..

Sejak label itu seolah tertulis di dahiku sekaligus menembus otak dan pikiranku hingga tertanam disana, aku benar-benar menjadi si pendiam yang sebenarnya. Tidak membaur, tidak mengobrol, tidak bersenang-senang, dan tidak melakukan hal-hal yang sebelumnya aku lakukan saat aku masih di sekolah menengah pertama bersama teman-teman ku sebelumnya. Ini adalah alasan kenapa pertanyaan yang tercetak miring di atas muncul, karena suasana yang aku alami saat SMP dan SMA adalah keterbalikan.”

Si pendiam, itu mungkin adalah label atau julukan yang sudah tak asing lagi dalam sebuah kelompok, ya pasti selalu saja ada orang yang dilabeli si pendiam ini diantara mereka. Tapi jujur saja, aku tidak suka dilabeli itu meskipun mungkin itu memang kenyataan yang mereka lihat dalam diriku.

Kenapa aku tidak suka? Alasannya adalah karena aku merasa terikat, terkunci, terbatasi oleh label si pendiam itu, seolah-olah aku berada dalam sebuah lingkaran yang mengurungku dan lingkaran itu adalah label tersebut.

Aku yang kebetulan orang nya sangat negatif thingking, berhasil menambah poin ketakutan ku untuk keluar dari lingkaran itu. Aku sudah berusaha, tapi setiap aku akan melewati pembatas lingkaran itu, mereka semua menatapku dan menanggapiku dengan aneh seolah mereka mendorongku untuk kembali ke tempatku, dan mengingatkan "siapa diriku".

Misalnya suatu ketika aku yang ingin menghapus label si pendiam ku, ikut berbicara, ikut nimbrung, ikut menanggapi mereka yang sedang berdiskusi. Lalu dengan menatapku aneh, mereka akan berkata :

"Tumben kamu ngomong."

"Nah gitu dong ngomong, jangan diem aja."

Speechless. Entah kenapa aku merasa baru saja dianggap tidak punya mulut. Mereka bahkan tidak menanggapi pendapatku, ucapanku, mereka hanya baru saja menyadari bahwa aku ternyata bisa bicara. Kalimatnya seolah mendorong ku untuk lebih baik, tapi asal kau tahu itu malah mengingatkan diriku bahwa aku itu si pendiam dan aku tidak pernah bicara dan tidak seharusnya bicara. Trims.

Mungkin kau bertanya, lalu apa yang harus dilakukan dan dikatakan agar bisa mendorong dia keluar dari lingkaran? Jawabannya adalah perlakukan dia dan tanggapi dia sebagaimana kamu memperlakukan dan menanggapi orang biasa yang tak punya label. Itu saja. 

Dalam kasus diatas, yang harus dilakukan adalah : ajak dia, tanya pendapatnya sebelum dia mengungkapkan sendiri, tapi bila sudah terlanjur maka dengarkan lalu tanggapi pendapatnya. Bukan malah memberikan reaksi seperti kalimat yang diucapkan diatas, itu malah akan membuatnya takut untuk mengungkapkan pendapatnya dilain kesempatan, karena dia tidak mau mendapatkan reaksi itu lagi.

     By the way.. baru-baru ini aku menonton film berjudul All the bright places (bergenre romance) yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Jennifer Niven. Karena penasaran, tak lama setelah itu aku membaca novelnya untuk mengetahui cerita lengkap dari film itu dan novel itu menjadi novel pertama yang membuat ku menangis saat membacanya, sebenarnya aku juga mengangis sesenggukan saat menonton filmnya tapi itu bukan film pertama yang membuatku menangis.

Jadi alasan aku terbawa perasaan oleh cerita itu karena aku merasa tokoh utama pria telah mengungkapkan perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan, dia merasakan apa yang aku rasakan lalu dia bisa mengungkapkan nya. Ini masih berhubungan tentang label, tokoh utama pria bernama Theodore Finch dalam cerita itu adalah seorang siswa yang dilabeli si aneh oleh warga sekolahnya dan dia mengatakan bahwa dia juga tak suka label itu. Apapun yang dia lakukan sekalipun itu hal yang wajah dan tidak aneh, bila dia yang melakukannya, itu akan dianggap aneh hingga membuatnya tak tahu lagi harus melakukan apa untuk menghapus label yang seolah tertulis di dahinya, itu juga sampai membuatnya merasa tak mengenali dirinya sendiri, siapa dirinya sebenarnya? Apakah dia adalah si aneh seperti apa yang orang-orang bilang?

Persamaan aku dan tokoh fiksi Teodore Finch ini adalah kita ingin bilang "Aku tidak suka label ini, aku saja tidak tahu seperti apa diriku tapi kalian seenaknya memberikan label itu padaku, kalo aku bisa memilih, aku juga tidak ingin menjadi aku yang seperti ini".

Kami terkadang mengakui bahwa label itu benar, itu memang sesuai bagaimana kami bertindak, tetapi kami juga lelah dan tak suka saat kami akan berubah lebih baik namun label itu tetap orang-orang berikan kepada kami. Kami tidak pernah diberi jalan.

     Label. Itu benar-benar membuat orang itu terkunci dalam label itu, bahkan membuat orang itu melakukan apa yang orang lain label kan padanya. Karena orang itu akan merasa semuanya sudah terlanjur, label ini sudah tertulis di dahulu dan aku tidak bisa menghapusnya, percuma aku melakukan apapun karena mereka akan tetap menganggapku label itu.

Satu lagi dampak yang aku rasakan, ternyata aku tidak bisa meninggalkan label itu disekolah, aku membawanya kemana-mana bahkan ke lingkungan tempat tinggalku, sehingga aku juga takut orang-orang disekitaku akan menanggapi aku atau memberi reaksi seperti orang-orang dikelas menanggapiku. Rasanya aku benar-benar kehilangan kendali atas diriku sendiri, karena aku selalu berpikir "aku ingin melakukan itu, tapi aku kan si pendiam, aku tidak pantas melakukan itu, aku tidak mau orang-orang melihatku aneh". 

Sebenarnya label-label buruk yang diberikan justru hanya akan memperburuk keadaan orang yang dilabeli. 

Contoh lainnya yang kulihat dalam kehidupanku adalah label si nakal yang diberikan pada orang yang melanggar aturan, orang itu malah semakin nakal setiap waktunya, seolah ia menunjukan si nakal yang sebenarnya karena merasa sudah terlanjur ia dilabeli. Ia merasa didukung.

     Label bisa diberikan oleh siapa saja kepada siapa saja, itu bisa terjadi dalam kelompok pertemanan, kelompok kelas, kelompok kerja, ataupun kelompok keluarga.

Jadi berhentilah memberikan label pada orang lain terutama di depannya, aku tahu setiap orang punya pendapatnya sendiri tentang orang lain tapi setidaknya jangan ucapkan itu di depannya, jangan tanam label itu dipikirannya, karena pikiran adalah pengendali semua hal yang ada dalam diri seseorang. Cukup itu ada dipikiranmu saja, kita tidak pernah tahu mental seseorang sekuat apa atau selemah apa. Ya mungkin untuk sebagian orang julukan buruk bisa menjadi pendorong untuk membuatnya lebih berusaha berubah menjadi lebih baik di masa depan, tapi untuk sebagian orang lagi label buruk itu bisa menjadi penghambat dia untuk maju karena dia terlalu takut untuk keluar dari lingkaran label itu.

Sekedar spoiler nih hehe.. 
Akhir dari cerita all the bright places ini sangat mengenaskan, Theodore Finch adalah sosok yang ceria di depan orang-orang tapi dibalik itu dia tertekan, dia tak nyaman dengan tatapan orang-orang, dia benar-benar sakit tapi orang-orang tidak melihatnya, tidak menyadarinya, dan mungkin tidak memperdulikannya, hingga ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari kematian. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini, khususnya untuk orang tua maupun untuk kita sebagai manusia yang berinteraksi dengan manusia lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Percaya diri, susah? Memang.